ALHIRA INDONESIA COM - Ragam Produk, Jasa dan Informasi

Al Quran Online Jadwal Sholat Doa Pagi dan Petang Radio-Radio Sunnah Rodja TV Streaming
Cara Sehat dan Sukses Bergaransi
Google+



RAGAM INFORMASI

Ibadah-Ibadah Yang Dikerjakan Ketika Sedang I'tikaf

Oleh : Admin Alhira Indonesia  Dipublikasikan : 2012-08-10
 

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang telah menciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia siapa yang terbaik amalannya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga kepada keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka denga baik.

Sebelum kita membahas mengenai Ibadah-Ibadah Yang Dikerjakan Ketika Sedang I'tikaf maka kita membahas terlebih dahulu pengertian I’tikaf.

 

PENGERTIAN I'TIKAF

Secara Bahasa: kata “الاعْتِكاف” berarti “الاحتباس” (memenjarakan)[ Mukhtar ash-Shihhah 1/467]. Ada juga yang mendefinisikannya dengan:

حَبْسُ النَّفْسِ عَنْ التَّصَرُّفَاتِ الْعَادِيَّةِ

Menahan diri dari berbagai kegiatan yang rutin dikerjakan” [Al Mishbah al Munir 2/424].

 

Secara istilah atau Syariat: para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan i’tikaf  dikarenakan perbedaan pandangan dalam penentuan syarat dan rukun i’tikaf[Fiqh al-I’tikaf hal.24.]. Namun, kita bisa memberikan definisi yang umum bahwa i’tikaf adalah:

الْمُكْث فِي الْمَسْجِد لعبادة الله مِنْ شَخْص مَخْصُوص بِصِفَةٍ مَخْصُوصَة

Berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu” [Syarh Shahih Muslim 8/66].

_____________________________________________________________________________________

Keika sedang I’tikaf banyak diantara kita yang sedang I’tikaf mengisinya hanya dengan berbincang-bincang sesama teman atapun hal lain yang tidak tepat dilakukan ketika sedang ber i'tikaf.  Padahal masih banyak ibadah yang bisa kita kerjakan ketika sedang beri’tikaf. Diantara ibadah ibadah tersebut adalah:

 

[1] Memperbanyak ibadah MAHDAH

Mu’takif (orang yang ber-i’tikaf) disyari’atkan memperbanyak ibadah mahdhah (ritual) seperti shalat, membaca Al-Quran, dzikir, dan ibadah yang semisal. Berbagai ibadah ini dapat membantu seseorang untuk merealisasikan tujuan dan hikmah I’tikaf, yaitu memfokuskan hati dalam beribadah kepada-Nya dan memutus kesibukan dengan makhluk.

 

[2] Melakukan ibadah MUTA'ADDIYAH

Melakukan ibadah muta’addiyah (ibadah yang berdampak sosial) disyari’atkan bagi mu’takif apabila hukum ibadah muta’adiyah tersebut wajib dan tidak memakan waktu yang lama seperti mengeluarkan zakat, amar ma’ruf nahi mungkar, membalas salam, memberi fatwa, dan yang semisal.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum ibadah muta’addiyah ketika ber-i’tikaf apabila tidak wajib dan memakan waktu yang lama, seperti melaksanakan kajian atau berdiskusi dengan seorang ‘alim, dan yang semisal. Sebagian ulama berpendapat hal tersebut disyari’atkan, sebagian yang lain berpendapat sebaliknya.

Ibnu Rusyd mengatakan, “Akar perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini adalah dikarenakan hal tersebut tidak disebutkan hukumnya. Maka, ulama yang berpandangan bahwa yang dimaksud i’tikaf adalah mengekang diri di masjid dengan melakukan aktivitas yang khusus, maka mereka berpendapat seorang mutakif hanya boleh melakukan ibadah shalat dan membaca Al-Quran. Sedangkan yang berpandangan bahwa yang dimaksud i’tikaf adalah mengekang diri dengan melakukan seluruh kegiatan ukhrawi, maka mereka membolehkan hal tersebut.”  {Bidayatul Mujtahid 1/312.]

 

Pendapat yang kuat adalah sebagaimana hal tersebut di atas dan hal ini merupakan pendapat madzhab Hanafi[Fathul Qadir 2/396] dan Syafi’i[Al Umm 2/105]. Pendapat ini berlandaskan pada beberapa dalil berikut:

Pertama, hadits Shafiyah radhiallahu ‘anha[HR. Bukhari: 1933], di dalamnya disebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberbincang-bincang dengan para istri beliau.

Kedua, hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu[HR. Muslim: 1167], di dalamnya disebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dan memberi pengarahan kepada para sahabatnya.

Hukum yang terkandung dalam kedua hadist ini juga dapat diterapkan pada aktivitas kajian ketika ber-i’tikaf.

Ketiga, hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha[HR. Bukhari: 1925; HR. Muslim: 297] yang menyisirkan rambut nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau tengah ber-i’tikaf. Segi pendalilan dari hadits ini, jika menyisirkan rambut yang hukumnya mubah diperbolehkan tentulah melakukan ibadah selain shalat dan tilawah Al Quran lebih diperbolehkan.

 

[3] Membuat Sekat atau Tenda di dalam Masjid

Disunnahkan bagi mu’takif, baik pria maupun wanita, membuat sekat atau tenda yang bisa dipergunakan untuk mengisolir diri dari para mu’takif lainnya. Hal ini berdasarkan perbuatan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[HR. Muslim: 1167] dan para istri beliau[HR. Bukhari: 1929.].

Hal ini lebih ditekankan bagi wanita yang ber-i’tikaf di masjid yang digunakan untuk shalat berjama’ah agar dirinya tidak terlihat oleh para pria sehingga tidak menimbulkan fitnah.[ Asy Syarhul Kabir ma’al Inshaf 7/582]

 

[4] Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat

Mu’takif hendaknya meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.[ Badai’ush Shana’i 2/117] Hal ini berdasarkan dalil berikut:

[a]Hadits Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu yang telah lalu disebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-i’tikaf di sebuah tenda kecil yang berpintukan lembaran tikar.[ HR. Muslim: 1167]

[b]Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang menyebutkan bahwa apabila rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin ber-i’tikaf, beliau melaksanakan shalat Subuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya).[ HR. Muslim: 1172]

[c] Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa seorang mu’takif hendaknya menyendiri agar bisa fokus beribadah dan hal itu baru dapat tercapai jika dia meninggalkan berbagai perkara yang tidak bermanfaat.

[d] Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Merupakan tanda baiknya keislaman seorang adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat baginya.”[ HR. Tirmidzi: 2318]

 

[5] Bergegas Menunaikan Shalat Jum’at

Mu’takif yang tidak beri’tkaf di masjid Jami’ dianjurkan untuk bergegas menunaikan shalat Jum’at berdasarkan keumuman hadits yang menganjurkan seorang untuk bersegera pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at.[ HR. Bukhari: 841; Muslim: 850]

 

[6] Tetap Berdiam di Masjid ketika Malam ‘Ied

Sebagian ulama menganjurkan agar mu’takif tetap berdiam di masjid pada malam ‘Ied dan baru keluar ketika hendak menunaikan shalat ‘Ied.[ Al Majmu 6/475]

 

Wallahu A’lam

 

Artikelwww.alhiraindonesia.com

Sumber: muslim.or.id







Copyright 2012-2014 @AlhiraIndonesia.com - Ragam Produk, Jasa dan Informasi | All Rights Reserved.